Selamat Datang di Artikel Motivasi Sahabat Sejati



Sabtu, 11 Juni 2011

“Mempertahankan Rumah Tangga”

Sudah 1,5 tahun terakhir ini, hubungan antara suami dan kedua orangtua saya tidak baik. Penyebabnya adalah suami selalu punya fikiran negatif terhadap kedua orang tua saya. Kedua orang tua saya yang sebelumnya biasa-biasa saja akhirnya jadi merasa tidak enak karena suami selalu menunjukan sikap permusuhan, tidak menghargai dan tidak hormat terhadap mereka.
Sering saya menasehati suami, tetapi ia malah mengatakan bahwa hubungannya dengan kedua orangtua saya sudah tidak akan bisa baik lagi dan ia meminta saya untuk memikirkan apakah saya bisa menjalaninya. Dengan situasi dan kondisi tersebut apa yang sebaiknya saya lakukan. Di satu sisi saya merasa durhaka karena sikap suami saya, dan terpikir untuk berpisah, tapi di sisi lain saya tidak mau melakukan hal yang dibenci Allah, selain itu saya juga memikirkan anak saya.
Apa yang sebaiknya saya lakukan, mengingat sebagai seorang suami, ia juga kurang bertanggung jawab. Ia pernah meninggalkan saya dan anaknya selama 3 bulan, alasannya karena ia tidak merasa nyaman di rumah dan tidak menafkahi selama 5 bulan berturut-turut.
Apakah rumah tangga seperti ini layak untuk dipertahankan? Atau perceraian adalah yang lebih baik? Itikad dari suami untuk berjuang mempertahankan pernikahan kami sangat kurang
A
Jawaban
Assalammu’alaikum wr. wb.
Ibu A yang sholehah,
Berat juga ya bu jika hati selalu harus bersabar terhadap sikap buruk suami terhadap orang tua yang kita cintai. Tentu tidak mudah harus berada di antara perselisihan suami dan orang tua kita. Di satu sisi kita harus menghormati suami kita namun di sisi lain hati tentu juga tak terima ketika suami memperlakukan mereka dengan tidak hormat.
Dalam hal ini saya setuju dengan sikap ibu yang tidak dapat menerima sikap suami meski ia menyatakan agar ibu terima saja kondisi ini. Yang tepat adalah bagaimana ibu harus menerima kenyataan bahwa memang ada masalah antara suami dan orang tua, nsmun juga berusaha mencari solusi agar terjadi perubahan atas yang sudah terjadi sehingga bisa menjadi lebih baik.
Sikap suami yang selalu nampak bermusuhan terhadap orang tua memang aneh karena umumnya menantu berusaha menunjukkan sikap semanis mungkin terhadap mertuanya. Terlebih jika perasaan negatif yang dirasakan suami ibu terhadap mertuanya tersebut juga yang menjadi faktor penyebab ia meninggalkan ibu selama berbulan-bulan.
Namun segala perilaku apapun itu selalu memiliki akar permasalahan dan dari akar itulah seharusnya kita dapat menyusun strategi untuk melakukan perbaikan. Jika dengan cara memberi nasehat tidak berhasil maka alternatif lain adalah dengan mempertemukan suami dengan orang lain yang dapat efektif mengurai masalah dan dapat memberikan masukan yang menggugah kesadaran suami.
Oleh karena itu saya menganjurkan ibu sebaiknya menghadirkan orang lain yang bukan dari pihak keluarga sehingga dapat dianggap sebagai pihak netral bagi suami. Mungkin ibu bisa menghadiri konselor pernikahan dengan alasan pada suami untuk memperbaiki keharmonisan hubungan ibu dengan suami.
Mengingat sikap apatis suami yang tidak mau ibu ikut campur atas permasalahannya dengan orang tua ibu, maka di awal tak perlu mengungkit masalah dengan orang tua dulu agar suami bersedia melakukannya. Semoga dengan kehadiran orang ketiga yang netral maka dapat memberikan pencerahan terhadap suami ibu dalam memandang permasalahannya dalam rumah tangga termasuk dengan orang tua ibu.
Bersabar ya bu, berusahalah dulu semaksimal mungkin sebelum memutuskan perceraian. Mungkin masih ada peluang untuk terjadinya perubahan sehingga tak perlu menghancurkan semuanya. dengan usaha dan doa semoga Allah tunjukkansolusi terbaik bagi rumah tangga ibu. Amin
Wassalammu’alaikum wr. wb.

sumber :
http://blog.re.or.id/mempertahankan-rumah-tangga.htm

Menyikapi Isteri Yang Menjadi Tulang Punggung Keluarga


Assalaamu'alaikum wr, wb.
Saya adalah seorang isteri dan ibu dari 3 anak yang masuk usia pubertas. Saya sudah menikah selama 15 tahun. Ada yang merisaukan saya, karena sejak menikah sampai sekarang, alhamdulillah, pendapatan saya jauh lebih tinggi dari suami. Bahkan ada masa selama 7 tahun saya menjadi tulang punggung tunggal bagi keluarga, karena suami tidak punya pekerjaan tetap. Sehingga akhirnya semua pembiayaan baik sehari-hari maupun yang cukup besar menjadi tanggungan saya.
Suami bukannya tidak berusaha, tapi mungkin memang rejekinya seperti itu, sehingga menyebabkan kondisi perekonomian di rumah adalah tanggungan saya. Saya juga sangat mencintainya. Namun terkadang saya berpikir, suami saya seperti terlena dengan keadaan di mana saya bisa mengatasi semua masalah yang ada.
Kadang-kadang timbul ketidak puasan dalam diri saya, karena semua jerih payah saya, selalu untuk keluarga. Sedangkan untuk keperluan saya pribadi harus saya tekan sedalam-dalamnya.
Sampai pernah terpikir oleh saya, bahwa bagaimana jadinya kalau saya tidak ada? Apa yang terjadi pada anak-anak dan keluarga ini?
Bu, bagaimana saya harus bersikap? Supaya saya ikhlas menjalankan ini semua? Sungguh saya lelah dengan beban yang demikian besar ini, saya ingin ridhla menjalaninya, tapi selalu saja ada ketidakpuasan menyertainya.
Terima kasih.
Wassalaamu'alaikum wr, wb.
Ratih
Jawaban
Assalamualaikum wr.wb
Laki-laki memang seharusnya menjadi pencari nafkah utama bagi anak-anak dan isterinya. Sementara perempuan, berkewajiban mengurus rumah tangga, anak-anak dan suami. Sementara itu Islam sendiri membolehkan isteri bekerja bila memang kondisinya memungkinkan misalnya untuk membantu perekonomian keluarga atau gaji suami tidak mencukupi kebutuhan sehari-hari.
Sangat sering ditemui justru isteri lah yang justru memiliki penghasilan yang lebih besar dibandingkan suaminya. Hal ini tentu saja menyebabkan isteri lebih banyak berperan dalam menjalankan roda ekonomi keluarga atau dengan kata lain menjadi tulang punggung perekonomian keluarga.
Kondisi seperti ini memang jelas kurang ideal, apalagi selain bekerja di luar rumah isteri juga sering dituntut untuk menyelesaikan tugasnya mengurus rumah tangga. Akibatnya beban isteri menjadi sangat berat, karena harus menjalankan dua peran sekaligus. Karenanya tidak berlebihan bila ibu merasa terbebani dengan kondisi seperti ini, apalagi kondisi ini ternyata sudah ibu jalani selama 15 tahun, atau sejak awal pernikahan.
Sebagai isteri, dalam hal ini perlu memahami beberapa hal agar dapat menjalankan kedua peran tersebut dengan ikhlas. Salah satunya dengan memahami bahwa Allah ternyata memberikan rezeki yang lebih banyak lewat tangan isteri. Karena yang terpenting, suami tetap berusaha sekuat tenaga mencari nafkah.
Mengenai hasil yang didapat besar atau kecilnya adalah ketentuan Allah. Sehingga apabila ternyata isteri berpenghasilan lebih besar dari suami, keduanya haruslah berlapang dada. Karena apa yang diperoleh adalah untuk kepentingan bersama.
Suami juga harus memahami beban berat isteri yang bekerja, dengan membantu tugas-tugas isteri dirumah. Selain itu suami jangan terlena dan merasa nyaman dengan kondisi seperti ini. Karena dikhawatirkan suami bisa lengah dari tanggung jawabnya sebagai qowwam atau pemimpin dalam keluarga.
Suami wajib terus berusaha mencari nafkah dan tidak terus menerus mengandalkan jerih payah isteri untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Apalagi bila isteri merasa tidak ridho karena diperlakukan seperti sapi perahan. Karena tugas utama mencari nafkah bukanlah tugas seorang isteri.
Apabila segala usaha telah dilakukan suami, namun rezeki suami ternyata masih 'segitu-segitu' saja. Haruslah dikhlaskan keadaan ini sebagai ketentuan Allah. Keadaan ini justru bisa menjadi ladang amal buat isteri, karena Insya Allah banyak pahala bagi peran ganda perempuan yang membantu suami mencari nafkah sekaligus pahala untuk tugasnya sebagai ibu dan isteri dari suaminya.
Cobalah memahami makna kebersamaan dalam pernikahan, rumah tangga ibarat kapal yang dikayuh oleh dua orang. Ketika yang satu tidak mengayuh dengan baik, maka yang lain harus mengayuh lebih keras. Bila hal ini disadari dengan baik, Insya Allah akan mengurangi perasaan tidak puas dari pihak isteri.
Contohnya adalah Khadijah ra. Isteri Rasullullah saw. yang harta dan status sosialnya berada di atas suami tercintanya. Hingga Berapa banyak harta hasil kerjanya yang dipakai sang suami untuk berdakwah. Namun demikian Khadijah tetap berkhidmat pada suaminya tercinta.
Nah, Ibu Ratih semoga apa yang baru saya sampaikan, bisa mengurangi kerisauan hati ibu.
Wallahua'lam Bishawab.
Wassalamu'alaikum wr. wb.

sumber :
http://www.eramuslim.com/konsultasi/keluarga/bagaimana-menyikapi-jika-isteri-menjadi-tulang-punggung-keluarga.htm

Solusi buat Wanita yang tertindas oleh suami

Pada hakikatnya, Islam tidak melepaskan kehidupan rumah tangga berjalan begitu saja tanpa arah petunjuk. Sehingga hawa nafsu menjadi penentu  yang berkuasa. Tidak demikian adanya. Islam telah menggariskan hak,
kewajiban, tugas dan tanggung-jawab antara suami dan istri sesuai  dengan kodrat, kemampuan, mempertimbang- kan tabiat dan aspek psikis. Hal  tersebut ditetapkan di atas landasan yang adil lagi bijaksana. Allah
 
Ta�ala berfirman:
"Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma�ruf. Akan tetapi, para suami mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada isterinya. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana". [al-Baqarah/2:228].

Jika pasangan suami istri mengerti dan memahami kewajiban masing-masing, niscaya biduk suatu rumah tangga kaum muslimin akan berjalan normal, semarak oleh suasana mawaddah dan rahmat. Suami memenuhi kewajiban-kewajibannya. Begitu pula, istri juga menjalankan kewajiban-kewajibannya. Dengan ini, rumah tangga akan menuai
kebahagiaan dan ketentraman. Rumah tangga benar-benar berfungsi sebagaimana mestinya.

Allah Subhanahu wa Ta�ala berfirman :
"Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat  tanda-tanda bagi kaum yang berpikir." [ar-Rûm/30:21].

Akan tetapi, kondisi ideal ini, terkadang terganggu oleh riak-riak yang pada akhirnya mempengaruhi tingkat mawaddah dan rahmat antara suami-istri. Suami berbalik membenci istrinya. Pada sebagian suami,  tidak mampu bersabar sehingga tangan kuatnya diayunkan ke tubuh istri, dan menyebabkan istri mengerang kesakitan. Bekas-bekas penganiayaan pun terlihat jelas. Istrinya merasa tidak aman dan nyaman hidup dengan lelaki itu. Situasi kian memanas. Akibat emosi tak terkendali, kadang timbul aksi yang tidak diharapkan, semisal penganiayaan hingga
pembunuhan, baik dari suami maupun istri. Nas`alullah as-salaamah.

Syaikh �Abdur-Rahmaan as-Sudais menyampaikan fakta: "Ada sejumlah lelaki (suami) yang tidak dikenal kecuali hanya dengan bahasa perintah dan larangan, hardikan, sifat arogan, buruk pergaulan, tidak ringan tangan, susah bertoleransi, emosional dan sangat reaktif. Jika berbicara, perkataannya menunjukkan dirinya bukan orang yang beradab. Dan bila berbuat, perilakunya mencerminkan kecerobohan. Di dalam rumah, suka menghitung-hitung kebaikannya di hadapan istri. Bila keluar rumah, prasangka buruk kepada istri menggelayuti pikirannya. Bukan pribadi
yang lembut dan tidak sayang. Istrinya hidup dalam kesulitan, bergulat  dengan kesengsaraan dan terpaksa mengalami prahara"[1]

MENDATANGKAN DUA PENENGAH DARI MASING-MASING PIHAK

Dalam konteks ini, bila persoalan semakin meruncing, maka Allah Subhanahu wa Ta�ala mengarahkan untuk menghadirkan dua penengah dari keluarga suami dan istri.

"Dan jika kamu khawatirkan ada persengketaan antara keduanya, maka  kirimlah seorang hakam dari keluarga laki-laki dan seorang hakam dari keluarga perempuan. Jika kedua orang hakam itu bermaksud mengadakan
perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada suami-isteri itu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal"  [an-Nisaa`/4:35][2].


Tugas mereka berdua, mengerahkan segala upaya untuk mengetahui akar  permasalahan yang menjadi sebba perseteruan antara suami istri dan menyingkirkannya, serta memperbaiki hubungan suami-istri yang sedang
dilanda masalah. Dua penengah ini (hakamain) disyaratkan orang muslim, adil, dikenal istiqamah, keshalihan pribadi dan kematangan berpikir, dan bersepakat atas satu keputusan. Keputusan mereka berkisar pada perbaikan hubungan dan pemisahan antara mereka berdua. Berdasarkan pendapat jumhur ulama, keputusan dua penengah ini mempunyai kekuatan untuk mempertahankan hubungan atau memisahkan mereka.

TALAK BISA "MENJEMBATANI" KEBUNTUAN ANTARA SUAMI-ISTRI
Pada asalnya, talak bukanlah jalan keluar yang dianjurkan untuk menyelesaikan keretakan hubungan antara suami-istri, jika tidak ada faktor penting dan mendesak yang menjadi penyebabnya. Namun, ketika istri memperlihatkan tanda-tanda kebencian kepada suami, karena istri sering mengalami penindasan, misalnya secara fisik berupa pukulan yang menciderai, siksaan yang berat, kewajiban nafkah tak dipenuhi, terus-menerus dicaci, mendapatkan tuduhan yang bermacam-macam umpamanya, sehingga kehidupan rumah tangga tidak mendukung menjadi
keluarga harmonis, maka dalam kondisi ini, talak bisa menjadi jalan keluar bagi mereka berdua.

Konsepsi kehidupan rumah tangga dalam Islam sendiri bersendikan "pergaulan yang baik, atau dilepaskan dengan cara baik pula". Hal ini berdasarkan firman Allah Ta�ala:

"Setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang ma�ruf atau menceraikan dengan cara yang baik" [al-Baqarah/2:229].

Kalau suami ingin tetap hidup bersama istri, kewajibannya ialah mempergauli istrinya dengan sebaik-baiknya. Allah Subhanahu wa Ta�ala berfirman :

"Dan bergaullah dengan mereka secara patut". [an-Nisâ/4: 19]

Tindakan aniaya terhadap orang lain terlarang. Demikian juga perbuatan-perbuatan yang merugikan dan membahayakan orang lain. Apalagi kepada orang yang menjadi pendamping hidup dan bersifat lemah. Orang
terbaik ialah orang yang berlaku baik kepada keluarganya. Rasulullah  Shallallahu �alaihi wa sallam bersabda:

"Sebaik-baik kalian adalah orang yang bersikap baik kepada keluarganya.Dan aku adalah orang yang terbaik bagi keluargaku" [HR at-Tirmidzi dan Abu Dâwud].

Kedekatan antara suami dan istri sangat kuat. Dari seringnya interaksi antara keduanya, masing-masing dapat mudah terpengaruh oleh kondisi pasangannya. Pengaruh baik akan berdampak positif bagi pasangan. Begitu pula, keadaan-keadaan yang buruk pun akan mudah berpengaruh pada pasangannya.
Tatkala kesepahaman tidak bisa dipadukan, dan seluruh terapi tidak memberi pengaruh positif bagi perubahan ke arah yang baik, maka kehidupan berumah tangga dengan pasangan bisa menjadi beban berat untuk dipikul. Allah Subhanahu wa Ta�ala berfirman :

"Jika keduanya bercerai, maka Allah akan memberi kecukupan kepada masing-masing dari limpahan karunia-Nya. Dan adalah Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Bijaksana" [an-Nisaa/4:130]

BILA SUAMI TIDAK INGIN MENCERAIKAN
Bila kehidupan rumah tangga sudah menjadi beban berat bagi istri sehingga dikhawatirkan tidak mampu lagi menjadi pendamping suami, baik karena perilaku maupun tindak kekerasan yang dilakukan suami atau lainnya, maka dalam keadaan seperti ini, Islam membolehkan wanita mengajukan gugatan cerai kepada suami dengan memberikan ganti rugi harta. Dalam syari’at Islam, gugatan cerai istri atas suaminya ini dinamakan al-khulu’.[3]

Al-Hishnî rahimahullah menjelaskan jenis ketiga dari keringanan dalam pernikahan dengan menyatakan: Di antaranya, ialah kemudahan pensyariatan talak (cerai) karena beban berat tinggal berumah tangga,  dan demikian juga al-khulu’. Juga semua yang disyari’atkan hak pilih faskh (menggagalkan akad) karena kesabaran wanita atas keadaan tersebut merupakan beban berat (al-masyaqqah), karena syari’at tidak memberikan hak cerai kepada wanita.[4]

Sedangkan Ibnu Qudamah rahimahullah, ketika menjelaskan hikmah disyari’atkannya al-khulu’, ia menyatakan: "Al-khulu’ (disyari’atkan) untuk menghilangkan dharar (kerugian) yang menimpa wanita karena jeleknya pergaulan dan tinggal bersama orang yang tidak ia sukai dan  benci".[5]
 
Lebih jelas lagi, yaitu pernyataan Ibnul-Qayyim, bahwasanya Allah mensyari’atkan al-khulu’ untuk menghilangkan mafsadat yang berat, menimpa pasangan suami istri dan membebaskan satu dari pasangannya [6].
Apabila suami menyetujuinya, maka rusaklah akad pernikahan keduanya (faskh) dan sang wanita menunggu sekali haidh agar dapat menerima pinangan orang lain.

Namun, apabila suami tidak menerima al-khulu’ (gugatan cerai) istrinya tersebut, maka sang istri dapat mengajukan gugatan cerai kepada  pemerintah atau lembaga yang ditunjuk pemerintah menangani permasalahan tersebut agar mendapatkan keridhaan suami untuk menerima gugatan cerai tersebut. Sebab, terjadinya al-khulu’, tetap dengan keridhaan suami. Demikianlah pendapat mayoritas ulama bahwasanya al-khulu’ tidak sah kecuali dengan keridhaan suami.[7]

Oleh karena itu, Ibnu Hazm rahimahullah berkata: "Maka wanita diperbolehkan mengajukan gugatan cerai (al-khulu’) dari suami dan menceraikannya bila suami meridhainya".[8]

Demikian, cukup jelas solusi yang diberikan Islam dalam menangani masalah KDRT. Keuntungan dunia dan akhirat akan bisa digapai bila menaatinya. Mudah-mudahan, Allah Subhanahu wa Ta�ala membukakan hati kita untuk menerapkan seluruh syari�at-Nya dalam semua aspek kehidupan kita sehari-hari. Wallahu a�lam.
[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 11/Tahun XI/1429H/2008M.Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]

Saat Wanita Takut Menolak Cinta Pria

MENGAPA sebagian wanita begitu takut menolak cinta pria yang tidak ia sukai? Kalau rasa takut masih menghantui, Anda hanya akan menjalani hubungan tanpa kebahagiaan.

Bagi wanita, menolak cinta seorang pria tidak semudah yang dibayangkan. Melihat ekspresi wajah kecewa hingga janji untuk tidak lagi berhubungan dari si dia harus siap mereka tanggung.

Apakah Anda sedang berada dalam posisi sulit menebak jawaban wanita atas pernyataan cinta Anda? Simak ulasan beberapa pakar hubungan soal mengapa wanita begitu takut mengatakan “tidak” pada pria, seperti dikutip dari Bettyconfidential.

Sifat alami wanita

"Wanita cenderung sensitif dan penuh kasih. Mereka peduli dengan emosinya sehingga bisa berempati dengan rasa sakit akibat penolakan. Wanita hanya tidak ingin pria merasa sakit hati," kata Dr Kenneth Ryan, penulis buku Finding Your Prince in a Sea of Toads: How to Find a Quality Guy Without Getting Your Heart Shredded.

Wanita takut sendirian

"Adalah sulit bagi wanita untuk tidak bisa merasakan kencan yang begitu menyanjung dan menawarkan malam menyenangkan. Membayangkan malam menyedihkan, bahkan kesepian dengan duduk di rumah dan tidak melakukan apa-apa, jelas tidak mengasyikkan," kata Julie Melillo, pakar hubungan yang berbasis di Manhattan.

Tidak yakin dengan diri sendiri

"Daripada menunggu untuk kencan berkualitas dengan pria impiannya, banyak wanita memilih pria yang duluan datang menghampiri," kata Maria Avgitidis, pakar hubungan dan mak comblang di Agape Match, New York City.

Ingin membenahi diri

"Wanita yang single untuk sekian lama mungkin merasa rendah diri, berpikir bahwa kriteria pria yang mereka idamkan terlalu tinggi," kata Tiffani Murray, penulis Stuck on Stupid: A Guide for Today’s Single Woman Stuck in Yesterday’s Stupid Relationships.

Merasa bersalah

"Banyak wanita percaya bahwa jika putus dari seorang pria, kesalahan itu pasti karena mereka egois," kata Jaymes Ian Woode, penulis buku 101 Behaviors a Guy Needs to Understand about His Woman!

Ingin dorongan ego

"Sering kali, wanita mengatakan ‘ya’ kepada seorang pria yang benar-benar bisa memberi perhatian dan terbuai dalam kegembiraan hubungan baru tanpa tahu apa yang mereka inginkan," kata Lauren Sheehan, pakar hubungan di femininerhythm.com.

Mengenal Cara Kerja PERASAAN LELAKI

Apakah otak lelaki kurang emosional lebih baik untuk membangun dan mempertahankan pernikahan?. Benarkah demikian?.
Penulis buku “The Mail Brain” Michael Gurian menjawab dengan matap,” Ya”. Gurian memberi alasan dasarnya atas jawaban positif ini dengan mengeksplorasi secara mendalam kecenderungan-kecenderungan biologis lelaki secara dalam kehidupan emosionalnya. Menurutnya, kecenderungan-kecenderungan biologis ini sama pentingnya kecenderungan-kecenderungan biologis perempuan.
1. LELAKI CENDERUNG MENANGGUHKAN REAKSI EMOSIONAL
Penelitian-penelitian belakangan menunjukkan bahwa lelaki membutuhkan waktu tujuh jam lebih lama daripada perempuan untuk memproses data-data emosi yang kompleks. Penelitian-penelitian terbaru tentang saraf menguatkan fakta bahwa mengingat kondisi biologis otak lelaki “reaksi yang lambat” merupakan bagian dari cara kerja perasaan lelaki. Perempuan, tentu saja, juga dapat menunda reaksi-reaksi emosionalnya, dan lelaki pun dapat menunjukkan reaksi-reaksi emosional secara sangat cepat. Akan tetapi secara umum, hal-hal berikut ini benar:
- Lelaki tidak akan segera mengetahui apa yang dirasakan ketika dia sedang merasakan, dan dia membutuhkan waktu yang lebih lama untuk memahaminya.
- Lelaki tidak dapat mengungkapkan perasaanya ke dalam kata-kata seketika itu, dan cenderung membutuhkan waktu yang lebih lama untuk mengungkapkannya kepada perempuan-jika dia memilih cara verbal.
2. LELAKI CENDERUNG MENGEDEPANKAN EMOSI FISIK DARIPADA EMOSI VERBAL
“Perempuan lebih banyak berbicara, lelaki lebih banyak bertindak.” Ini ungkapan klise tetapi seringkali benar. Perempuan lebih suka duduk dan berbicara, sedangkan lelaki lebih suka berolah fisik. Sebagian lelaki terkadang suka membicarakan perasaannya, tetapi tentu saja tidak selama perempuan ketika membicarakabnnya. Semakin banyak kandungan hormon testosteron pada lelaki (atau perempuan), semakin spasial dan fisikal proses emosionalnya.
Semakin banyak kandungan hormon esterogen/progesteron dalam sistem otak lelaki, semakin banyak proses verbal-emosinal yang dilakukannya, dan makanya dia semakin cenderung mengumbar kata-kata. Akibat olah lelaki menanggapi stimulus emosional dengan proses fisik-terutama karena otak lelaki cenderung melakukan proses ini dalam mengirim lebih banyak sinyal emosi ke batang otak-dia lebih mungkin merespons sebuah perasaan secara fisik. Hal ini dapat terjadi seperti berikut ini:
- Jika lelaki merasa disakiti, dia lebih mungkin mengespresikan kesakitannya dengan memukul sesuatu.
- Jika lelaki merasa tegang, dia lebih mungkin mengendurkannya dengan melakukan aktivitas fisik.
3. KETIKA MEMPROSES PERASAAN, LELAKI MENGENAKAN “TOPENG”
Disinilah pentingnya kemampuan perempuan dalam membaca isyarat-isyarat “topeng” lelaki. Mengingat kondisi biologis otaknya, lelaki lebih sulit mengungkapkan perasaanya daripada kaum perempuan. Dengan ukuran corpus callosum yang lebih kecil, lelaki memindah-mindahkan perasaanya di pusat-pusat bahasa dalam otaknya tidak seperti yang terjadi dalam otak perempuan.
Sewaktu lelaki merasakan sesuatu, sinyal perasaannya mulai bekerja di dalam sistem limbic lalu naik ke neokorteks. Sinyal ini akan naik lagi ke belahan otak kanan. Akan tetapi, ia akan berhenti dan hilang karena tidak diterima di sebuah pusat bahasa di belahan otak kiri. Dengan corpus callosum yang lebih kecil 25 persen daripada milik perempuan, otak lelaki lebih sulit menemukan sebuah jaringan lintas belahan daripada otak perempuan. Oleh karena otak perempuan memiliki enam atau tujuh pusat bahasa di belahan kanan dan kiri, dan otak lelaki hanya memiliki satu atau dua pusat di belahan kiri, otak perempuan acapkali tidak membutuhkan lintas belakang untuk mengidentifikasi dan mengungkapkan perasaannya secara verbal.
Sampai di sini, otak perempuan mempunyai susana yang lebih baik untuk mengambil perasaaan ketika ia datang, memprosesnya, dan mengungkapkannya ke dalam kata-kata. Maka reaksi yang terlambat adalah sebuah adaptasi yang dilakukan lelaki untuk menutupi adaptasi lainnya.
Otak lelaki menyesuaikan rendahnya kecepatan proses emosi dengan lebih menyembunyikan perasaannya. Ini menyebabkan otak lelaki lebih lama dalam memproses perasaan daripada yang diharapkan oleh lingkungan eksternalnya. Jika lelaki hidup dengan perempuan, dia mungkin tidak akan memproses perasaan-perasaan yang dirasakan oleh si perempuan.
Otak lelaki akan kerapkali menyembunyikan perasaan orisinal di balik perasaan semu, atau justru menghindarinya. Sampai batas-batas tertentu, setiap orang akan meyembunyikan perasaanya, dan lelaki jauh lebih sering memakai cara ini daripada perempuan

Berbahagialah wahai wanita,karena kamu dimuliakan . ..



Wanita adalah mahluk yang mengedepankan perasaan dan mahluk yang misteri .
Mungkin jika anda sebagai pria membaca artikel ini akan penasara,
Tapi bagi anda sebagai wanita anda akan kaget ,mengenal seberapa hebatnya diri anda .
Saya banyak belajar tentang wanita kepada Pak Teguh Handoko Susilo ,
Saya tidak ingin membahas panjang lebar dalam artikel ini,meskipun sifat luar biasa yang dimiliki wanita sangat panjang bila dijabarkan di sini 
Silahkan perhatikan saja artikel ini ,dan ambil hikmahnya .. .
Pak Teguh mengungkapkan makna yang luar biasa dibalik arti Wanita.Kenapa saya membahas wanita,alasannya adalah karena wanita manusia terbanyak di dunia lebih banyak dari pada laki – laki.
Ketika saya menulis di status saya ,
Laki-laki lebih suka bicara langsung sesuai tujuannya, sementara pembicaraan perempuan terputus-putus dengan keraguan dan perasaan. Disebabkan serabut penghubung antara belahan otak kanan ( intuisi ) dan kiri ( logika ) lebih sedikit pada perempuan. Sehingga ekspresi perasaan lebih mudah terjadi pada perempuan.
Muncullah komentar – komentar dari kaum hawa,dari beragam versi .Meskipun status saya itu diambil dari kaskus .
Lalu apa kata Pak Teguh dalam komentarnya ::
Sifat laki2 spt SPERMA, egois, bersaing dengan ratusan juta sperma lainnya, bunuh2an sikut2an utk memenangkan SEL TELUR. Sperma terus berjuang dgn istiqomah, itulah sbabnya qudrat laki2 adalah pejuang, egois.
Sifat wanita spt SEL TELUR, ia diam – menggoda dgn sinyal2 kimia elektris agar SPERMA smakin puyeng ingin segera meraba, merasa dan meraga > demi trciptanya “penyatuan” yg melahirkan kehidupan.. Itulah sbabnya bgaimanapun ingin nya wanita, wanita tetap gengsi melangkah.
Sebelumnya saya juga memberikan status seperti ini ::
1. Wanita auratnya lebih susah dijaga (lebih banyak) dibanding lelaki.
2. Wanita perlu meminta izin dari suaminya apabila mau keluar rumah tetapi tidak sebaliknya.
3. Wanita saksinya (apabila menjadi saksi) kurang berbanding lelaki.
4. Wanita menerima warisan lebih sedikit daripada lelaki.

5. Wanita perlu menghadapi kesusahan mengandung dan melahirkan anak.
6. Wanita wajib taat kepada suaminya, sementara suami tak perlu taat pada isterinya.
7. Talak terletak di tangan suami dan bukan isteri.
8. Wanita kurang dalam beribadat karena adanya masalah haid dan nifas yang tak Ada pada lelaki.

Lalu Pak teguh menjabarkan status saya diatas menjadi ::
1. Wanita auratnya lebih susah dijaga (lebih banyak) dibanding lelaki.
- karena wanita adalah gambaran ILMU, ibarat gudang ilmu yg menyimpan banyak RAHASIA yg tersirat. Itulah sbabnya aurat (rahasia) nya lebih banyak. Pria adalah gambaran ALAM, tersurat, ga ada yang rahasia (aurat) di tubuh pria kec. tongkat komando nya.
2. Wanita perlu meminta izin dari suaminya apabila mau keluar rumah tetapi tidak sebaliknya.
-Itu pula yg jg trjadi di alam hakikat, krna itu pria mmpunyai tugas mmbuka tabir yg menghijab antara pria-wanita
3. Wanita saksinya (apabila menjadi saksi) kurang berbanding lelaki.
- Wanita adalah yg DISAKSIKAN bkn yg MENYAKSIKAN. Itulah sbabnya wanita tdk kuat utk menjadi “saksi yang menyaksikan” karena wanita adalah “yang disaksikan”, saksiknya adalah pria. (syahadat)

4. Wanita menerima warisan lebih sedikit daripada lelaki.

- karena wanita simbol langit, lelaki simbol bumi. Wanita kodratnya sudah KAYA, sudah Allah titipkan dgn seluruh kekayaan, sbg ni’matul alamin utk sang rahmatan ‘alamin.

5. Wanita perlu menghadapi kesusahan mengandung dan melahirkan anak.

- Wanita adalah makhluk ciptaan Allah yg paling terindah dan sempurna. Seluruh JIWA-RAGA nya disiapkan untuk “pengabdian” kepada Allah melalui sang pemimpin yaitu pria yang dititipkan amanat dirinya.
Sayang yang ke enam tidak dijabarkan ,silahkan menjabarkan sendiri ..  
Saya rasa anda dapat mengambil manfaat dari komentar Pak Teguh Handoko diatas ..  
Berbahagialah wahai wanita,karena kamu dimuliakan . ..
sumber :
http://ada-akbar.com/2010/12/mengenal-lebih-jauh-tentang-wanita/

Belajar Memahami Wanita

Ada kalanya juga wanita yang ga ngerti kita (kaum lelaki) 
Kadang kala untuk mencuri hati seorang wanita atau membuat wanita suka kepada kita, kaum lelaki hanya perlu tau apa yang bisa membuatnya tersenyum. Namun jika berniat meremukkan atau menghancurkan hati wanita bisa dengan cara cari tau apa yang bisa membuatnya menangis.
Sebenarnya tak perlu juga wanita sampai mengeluarkan air mata untuk lelaki mana pun walaupun lelaki itu pacarnya, temannya, ttmnya bahkan suaminya. Menurut saya tipe wanita yang bisa membuat wanita menangis pasi susah mendapatkan pasangan, seperti saya (idiot).
Tapi semua ini mungkin hanyalah sebatas logika. Pada prateknya, seringkali lelaki yang semestinya menghapus air mata perempuan, tapi justru kadang kebalikannya.
Langsung aja deh kapan saja saat saat lelaki harus memahami wanita :
Ketika wanita diam, seribu hal sedang berlarian dalam benaknya.
Ketika wanita memilih tak mendebat, dia sedang berpikir sangat dalam.
Ketika wanita memandangmu dengan tatap penuh tanya, Dia memang sedang bertanya. Berapa lama lagi waktumu tersisa untuknya.
Ketika wanita menjawab, “Gapapa, aku baik-baik aja,” tapi setelah sekian detik tertunda, dia sama sekali ngga baik-baik aja.
Ketika wanita menatapmu tajam, dalam hatinya dia sedang membentakmu, “Kok tega sekali kamu berbohong!”
Ketika wanita bersandar di bahumu, dia sedang berharap kau bisa jadi miliknya selamanya. Namun dia tau itu tidak akan terjadi.
Ketika wanita meneleponmu (hampir) setiap hari, mungkin dia sedang meminta sedikit saja perhatianmu.
Ketika wanita meng-sms-mu lebih sering lagi, dia sedang memintamu membalasnya, paling tidak sesekali.
Ketika wanita mengatakan, “Aku mencintaimu…”. beda denganmu, karena itu berisi kesungguhan.
Ketika wanita mengatakan, “Aku ngga bisa hidup tanpamu..”, dia sudah menyerahkan masa depannya untukmu.
Ketika wanita mengatakan, “Aku merindukanmu…”, tak ada siapapun di dunia ini yang bisa merindukanmu lebih dari itu.